Kemendikbudristek Luncurkan Panduan Pendidikan Perubahan Iklim untuk Kurikulum Nasional

Perubahan iklim dari suasana yang cerah sampai suasana badai

Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek telah mengembangkan sebuah pedoman khusus untuk menangani masalah perubahan iklim. Pedoman ini dianggap sebagai salah satu aspek penting dalam kurikulum pendidikan nasional.

Yogi Anggraena, yang memimpin Tim Kurikulum di Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (Puskurjar), menjelaskan bahwa topik perubahan iklim tidak akan menjadi mata pelajaran tersendiri. Sebaliknya, topik ini akan diintegrasikan ke dalam berbagai kegiatan pendidikan, termasuk intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

Kegiatan intrakurikuler merujuk pada proses pembelajaran yang sudah berjalan. Sementara itu, kegiatan kokurikuler bertujuan untuk memperkuat pembelajaran intrakurikuler, misalnya melalui kunjungan ke museum atau tempat-tempat edukatif lainnya. Kegiatan ekstrakurikuler, di sisi lain, difokuskan pada pengembangan minat dan bakat siswa, seperti olahraga, seni, atau kegiatan keagamaan.

“Pada tahap awal penyusunan, kita memang memetakan kemampuan apa yang perlu dimiliki peserta didik mulai dari fase pondasi pada PAUD, SD, SMP, SMA, kita petakan. Nah, setelah kita menyusun kemampuan apa yang perlu dimiliki maka kita petakan ke intrakurikuler, ke dalam kokurikuler, dan ke dalam ekstrakurikuler,” seperti yang dikutip dari REPUBLIKA.CO.ID, Yogi menjelaskan dalam sebuah konferensi pers pada hari Senin (13/10/2024).

Yogi menambahkan bahwa topik perubahan iklim sudah tercakup dalam beberapa mata pelajaran yang ada. “Lalu akan diperkuat di kokurikuler seperti Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) tentang gaya hidup berkelanjutan dan melalui ekstrakurikuler seperti pramuka,” seperti yang dikutip dari REPUBLIKA.CO.ID.

Untuk mendukung inisiatif ini, Kemendikbudristek telah menyusun sebuah panduan yang berisi contoh-contoh praktik terbaik yang dapat diimplementasikan oleh lembaga pendidikan. Tujuannya adalah agar pendidikan tentang perubahan iklim dapat menjadi gerakan bersama di masa depan.

Luckmi Purwandari selaku Kepala Pusat Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menyambut baik panduan yang disusun oleh Kemendikbudristek. Menurut Luckmi, panduan ini akan bermanfaat tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk masa depan.

“Saat ini krisis lingkungan itu ada tiga yaitu perubahan iklim, biodiversity loss, dan pencemaran limbah dan sampah. Ketiga krisis ini saling kait-mengait. Oleh karena itu KLHK mendorong adanya gerakan peduli dan berbudaya lingkungan hidup di sekolah. Kegiatan-kegiatan ini sebenarnya tujuannya salah satunya tadi untuk menghadapi tiga krisis tadi,” ujar Luckmi sebagaimana yang dikutip dari REPUBLIKA.CO.ID.

Luckmi berharap bahwa melalui pendidikan tentang perubahan iklim, para siswa akan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang potensi bahaya perubahan iklim serta potensi yang dimiliki oleh daerah mereka masing-masing.

Sementara itu, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan surat edaran terkait panduan implementasi kurikulum ini. Mereka menekankan pentingnya bagi sekolah untuk memasukkan isu-isu terkini, termasuk perubahan iklim, ke dalam kurikulum mereka.

Ali Mukodas, Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, menyatakan bahwa pemerintah provinsi telah mendukung inisiatif pendidikan tentang perubahan iklim sejak tahun 2016. Beliau juga mengapresiasi sekolah-sekolah yang telah berhasil meraih penghargaan Adiwiyata Nasional, menerapkan konsep sekolah hijau, dan mengimplementasikan kegiatan-kegiatan terkait perubahan iklim.

Contact and follow us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *